Enterobacter Sakazakii, Apakah Itu?

Berdasarkan hasil penelitian IPB terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut. Penelitian sendiri telah dilakukan pada 2008, tetapi ketiga pihak tersebut tidak bersedia mengumumkan. Sehingga menyebabkan kegalauan masyarakat terutama bagi ibu-ibu yang memiliki bayi.

Lalu, apakah bakteri ini berbahaya pada bayi atau anak? Dan bagaimana hal itu bisa terjadi?

Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang diperlukan juga oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang.

Dan berikut adalah penjelasan mengenai bakteri Enterobacter sakazakii yang saya kutip dari Wikipedia.

Enterobacter sakazakii merupakan bakteri gram negatif anaerob fakultatif, berbentuk koliform (kokoid), dan tidak membentuk spora. Bakteri ini termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Sampai tahun 1980 E. sakazakii dikenal dengan nama Enterobacter cloacae berpigmen kuning.

Pada tahun 1980, bakteri ini dikukuhkan dalam genus Enterobacter sebagai suatu spesies baru yang diberi nama Enterobacter sakazakii untuk menghargai seorang bakteriolog Jepang bernama Riichi Sakazakii. Reklasifikasi ini dilakukan berdasarkan studi DNA hibridisasi yang menunjukkan kemiripan 41% dengan Citrobacter freundii dan 51% dengan Enterobacter cloacae.

Habitat dan Sumber Penyebaran

Enterobacter sakazakii bukan merupakan mikroorganisme normal pada saluran pencernaan hewan dan manusia, sehingga disinyalir bahwa tanah, air, sayuran, tikus dan lalat merupakan sumber infeksi. Enterobacter sakazakii dapat ditemukan di beberapa lingkungan industri makanan (pabrik susu, coklat, kentang, sereal, dan pasta), lingkungan berair, sedimen tanah yang lembab. Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi E. sakazakii antara lain keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk.

Bahaya Kesehatan

Laporan mengenai infeksi E. sakazakii menunjukkan bahwa bakteri ini dapat menyebabkan radang selaput otak dan radang usus pada bayi. Kelompok bayi yang memiliki resiko tertinggi terinfeksi E. sakazakii yaitu neonatus (baru lahir hingga umur 28 hari), bayi dengan gangguan sistem tubuh, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan bayi yang lahir dari ibu yang mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Enterobacter sp. merupakan patogen nosokomial yang menjadi penyebab berbagai macam infeksi termasuk bakteremia, infeksi saluran pernapasan bagian bawah, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran kemih, infeksi dalam perut, radang jantung, radang sendi, osteomyelitis, dan infeksi mata.

Angka kematian akibat infeksi E. sakazakii mencapai 40-80%. Sebanyak 50% pasien yang dilaporkan menderita infeksi E. sakazakii meninggal dalam waktu satu minggu setelah diagnosa. Hingga kini belum ada penentuan dosis infeksi E. sakazakii, namun sebesar 3 cfu/100 gram dapat digunakan sebagai perkiraan awal dosis infeksi.

Karakter dari bakteri ini adalah akan mati dalam waktu 15 detik pada suhu minimal 70 derajat celsius. Lalu apa tindakan pencegahan yang bisa kita lakukan untuk mencegah bayi terinfeksi Enterobacter Sakazakii?. Berikut adalah beberapa tindakan pencegahan yang bisa dilakukan:

  1. Enterobacter Sakazakii dapat masuk ke dalam kemasan susu saat kemasan di buka. Karena itu usahakan membuka kemasan susu dalam kondisi badan dan tempat yang bersih.
  2. Apabila kita hendak membuat susu untuk bayi, gunakan air panas. Ini berguna agar Enterobacter Sakazakii langsung mati sebelum diminum oleh bayi.
  3. Susu yang telah dibuat setelah 2 jam jangan dikonsumsi lagi karena kemungkinan besar telah tercemar bakteri.

Dengan menggunakan beberapa cara di atas, diharapkan kita dapat mencegah Enterobacter Sakazakii mencemari susu formula. Namun yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana kita memaksimalkan agar bayi mengkonsumsi ASI eksklusif hingga berusia 2 tahun.

Courtesy : wikipedia dan dari berbagai sumber

Pos ini dipublikasikan di Kesehatan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s