Antara Redenominasi VS Sanering Dan Pelaksanaannya

Masih mengenai rencana yang digulirkan oleh Gubernur BI mengenai Redenominasi Rupiah yang menggegerkan dunia ekonomi kita. Rencana tersebut akan diusulkan tahun ini juga kepada pemerintah dan DPR  oleh Gubernur BI ( Darmin Nasution) . Bayangkan saja jika anda punya gaji Rp. 3.000.000,- lalu tiba-tiba bulan depan di slip gaji anda berkurang tiga digit sehingga gaji anda tertulis Rp. 3.000,-

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah:

  • Apa yang dimaksud dengan Redenominasi mata uang?
  • Apa perbedaannya dengan Sanering yang pernah dilakukan pada tahun 1959 dan 1966?
  • Apa keuntungan dan kerugiannya bagi perekonomian kita?
  • Bagaimana melakukannya?

Untuk mengetahuinya secara detail ada baiknya kita jelaskan satu persatu mengenai pertanyaan tersebut diatas yang secara umum dapat kita uraikan sebagai berikut.

Sanering

Tahun 1959 dan tahun 1966 adalah contoh nyata dari pelaksanaan sanering uang. Saat itu ada kebijakan memotong nilai uang 50% dari nilai nominal atau dengan bahasa mudahnya, jika anda punya uang seribu, nilainya tinggal lima ratus saja. Jadi jika anda punya simpanan deposito sebesar 1 milyar, maka dalam jangka waktu satu hari, simpanan anda hilang setengahnya.Sayangnya , nilai yang dipotong hanya posisi nilai uang saja sementara harga barang tetap.

Mengapa begitu? Karena fungsi sanering adalah menurunkan permintaan dengan cara menghilangkan sebagian daya beli melalui jumlah uang yang dimiliki.

Ekonomi dasar menjelaskan :

Harga Naik = Permintaan > Penawaran

Artinya secara sederhana, dapat dijelaskan jika permintaan atas suatu barang diturunkan maka otomatis penawaran akan menjadi lebih besar sehingga harga akan turun. Cara ekstrim untuk menurunkan permintaan adalah mengurangi jumlah uang yang dimiliki masyarakat.

Orang-orang yang tadinya punya uang 10.000 Rupiah misalnya dan cukup untuk membeli 1 kg. beras, dengan sanering 50% uangnya tinggal 5.000 Rupiah dan hanya cukup untuk membeli setengah kilo beras.

Cara ini cukup efektif di mana pada tahun 1966, inflasi sebesar 650% bisa turun menjadi 38% ditahun 1967 dan tinggal 22% tahun 1968 dan dibawah 15% tahun 1969.

Meskipun begitu, kepanikan yang ditimbulkan menjadi luar biasa. Daya beli turun drastis dan mengakibatkan kemiskinan massal dan kelangkaan pangan karena sebagian besar masyarakat tidak memiliki daya beli.

Redenominasi Nilai Uang

Indonesia belum pernah melakukan kebijakan Redenominasi nilai uang. Ada dua negara sebagai contoh nyata pelaksanaan sistem ini yaitu Turki dan Rumania. Dibutuhkan 10 tahun bagi Turki dan lebih dari 7 tahun bagi Rumania untuk menstabilkan kondisi ekonomi negeri mereka melalui kebijakan ini.

Sistem ini sebenarnya sederhana saja. Uang 1.000,- setara dengan 1 Rupiah. Jadi jika anda ingin membeli mainan seharga Rp. 5.000,- cukup berikan 5 Rupiah saja. Di sini dapat kita lihat perbedaan utama antara “sanering” dengan “Redenominasi”. Pada ‘sanering’, nilai nominal dan riel uang sama-sama dipotong sementara pada ‘Redenominasi’, nilai nominal uang dipotong sementara nilai riel-nya tetap. Misalnya anda punya uang Rp. 1.000,- (seribu Rupiah). Dengan ‘sanering 50%’ nilai nominal dan riel uang menjadi Rp. 500,- (lima ratus Rupiah) sementara dengan sistem ‘Redenominasi 3 digit (kurang 000 dibelakang), nilai nominal menjadi Rp. 1,- (satu Rupiah) tapi nilai riel-nya tetap Rp. 1.000,- (seribu Rupiah).

Fungsi Uang

Secara umum ada tiga fungsi uang:

  1. Sebagai alat transaksi
  2. Sebagai alat untuk berjaga-jaga
  3. Sebagai alat untuk mengukur dan menyimpan kekayaan

Berikut ini adalah perbandingan antara sanering dengan Redenominasi nilai uang berdasarkan fungsi uang :

sanering_vs_redenominasi

Dari perbandingan itu, secara sepintas rasanya Redenominasi tidak ada pengaruhnya, cuma berubah anggapan saja? Jadi apa fungsinya? Secara umum bagi perekonomian nasional memang begitu. Tapi jika dikaitkan dengan ekonomi regional dan global maka fungsi Redenominasi menjadi lebih besar.

Berikut data negara dengan mata uang terbesar untuk tiap lembar uangnya:

Zimbabwe : 100.000.000.000

Vietnam    : 500.000

Indonesia : 100.000

Indonesia di perekonomian global berada pada urutan ke-3, negara-negara yang memiliki pecahan mata uang terbesar. Jika kita melihat daftar nilai tukar mata uang di bank saja misalnya:

USD 1 = Rp. 9.200,-  (Indonesia)

USD 1 = SGD 1,4,-       (Singapura)

USD 1 = Bath 41,-        (Thailand)

USD 1 = Ringgit 4,2,- (Malaysia)

Bayangkan, bahwa di antara negara tetangga terdekat saja, nilai uang kita paling kecil. Artinya, secara global kewibawaan mata uang Rupiah menjadi sangat kurang. Jumlah uang beredar kita paling besar secara nominal. Karena besarnya, sehingga transaksi ekonomi menjadi tidak efisien jika menggunakan pecahan mata uang kecil, maka BI menerbitkan pecahan mata uang besar (100 ribu Rupiah).

Jika anda ingin menarik uang senilai 200 juta untuk membeli mobil secara cash, sementara pecahan uang terbesar cuma Rp. 10.000,-. Artinya anda harus membawa dua koper besar untuk membawa uang pecahan 10 ribu Rupiah sebanyak 20.000,- lembar. Berapa besar ruangan yang dibutuhkan jika harus menyimpan uang sebesar 10 Trilyun dengan pecahan maksimal Rp. 10.000,- Andaikan jumlah uang kartal (riel) yang beredar sebesar 250 Trilyun dan setiap hari BI menyerap 50 Trilyun. Dengan pecahan Rp. 10.000,- berarti BI harus membangun gedung baru hanya utnuk menyimpan uang itu. Luar biasa kan?

Masalah kewibawaan ini sangat besar pengaruhnya dalam transaksi global. Jika anda pergi ke Singapura, berarti anda perlu membawa uang kas mungkin jumlahnya 10 juta Rupiah jika tidak sempat menukarnya dalam mata uang SGD. Apakah anda bisa langsung bertransaksi? Saya jamin tidak ada yang mau menerima uang itu. Anda harus ke money changer dulu untuk mengkonversinya menjadi Dolar Singapura.

Sayangnya tidak semua money changer menerima Rupiah. Ringgit Malaysia bahkan lebih laku di sana dibanding mata uang negara kita.

Anggaplah anda bertemu dengan money changer yang mau menerima, lalu dengan kurs Rp. 6.500,- per SGD maka sekarang anda menerima SGD 1.540,-. Bayangkan uang 10 juta Rupiah atau sebanyak 100 lembar dalam pecahan Rp. 100.000,- tinggal menjadi 17 lembar (15 lembar pecahan 100 dan 2 lembar pecahan 20 SGD). Sekarang anda bisa memasukkan lembaran itu dalam dompet saku anda.

Bagaimana kalau anda lupa membawa USD atau EUR, lalu buru-buru anda pergi ke Inggris misalnya. Kemana anda akan menarik uang? Mungkin ada bank yang bisa, tapi dikhawatirkan adalah apakah mereka punya persediaan Rupiah? Wah, sulit sekali menjawabnya…..

Pelaksanaan Redenominasi

Untuk melakukan Redenominasi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi BI tersebut antara lain :

1. Mendapatkan persetujuan dari pemerintah (pelaksana kebijakan fiskal) dan DPR (kebijakan legislasi).

Pelaku kebijakan moneter (BI) dan kebijakan fiskal (Depkeu) harus berkoordinasi secara cepat, tepat dan sungguh-sungguh, terutama sosialisasi ke masyarakat yang paling bawah. Paling tidak harus diatur agar harga barang-barang di toko dan di pasar jangan sampai berubah drastis dan dalam jangka waktu yang agak panjang dibiarkan ada dua mata uang yang beredar. Misalnya pecahan 1.000 sekarang tetap ada lalu dikeluarkan juga pecahan yang setara (Rp. 1,-) paling tidak selama dua tahun atau lebih, sehingga masyarakat secara alamiah bisa belajar dan mengetahui kebijakan ini.

Juga harus dipantau dan dimonitor langsung ke pasar-pasar (jika perlu ada poskonya) dimana dikhawatirkan para pelaku transaksi ekonomi riel di daerah-daerah salah mengerti sehingga mengarah pada kerusuhan. Fungsi polsek mungkin sangat memungkinkan untuk dimaksimalkan sebagai agen sosialisasi di daerah-daerah terutama daerah dengan tingkat turn-over (perputaran ekonomi) yang rendah. Selanjutnya, proses penggantian uang lama dengan uang baru juga harus perlahan-lahan dan jangan ekstrim untuk menghindari adanya issue bahwa uang lama sudah tidak laku misalnya.

2. Inflasi yang stabil

Inflasi adalah suatu kondisi dimana harga-harga barang mengalami kenaikan secara umum dalam periode waktu tertentu. Pemerintah harus menjamin distribusi barang secara ketat. Jika inflasi melonjak, maka secara umum nilai riel uang mengecil sehingga untuk menggenjot nilai riel uang, jumlah uang beredar kembali dinaikkan dan pada akhirnya, nilai uang kembali pada pecahan besar seperti saat ini.

Syarat ini tidak mudah dilakukan, karena banyaknya faktor yang mempengaruhi inflasi di negeri ini. Tidak hanya ketersediaan dan distribusi, faktor nilai tukar juga harus diperhatikan karena besarnya struktur komponen impor dalam transaksi ekonomi nasional. Otomatis jika nilai tukar melemah, maka harga impor akan naik dan ujung-ujungnya harga barang juga mengalami kenaikan. Jika ini terjadi, akhirnya pemerintah kembali harus menaikkan jumlah uang beredar dan pecahan besar kembali terjadi.

3. Kemandirian ekonomi nasional.

Syarat ini terutama untuk barang-barang kebutuhan pokok yang menjadi mayoritas transaksi. Paling tidak barang-barang seperti beras, jagung, kedelai, daging, pakan ternak, pupuk, pestisida dan barang-barang hulunya sebagian besar bisa dipasok dari dalam negeri. Barang-barang ini disebut “inflation trigger” atau barang-barang yang bisa memicu terjadinya inflasi secara cepat dalam periode waktu yang lama.

4. Kondisi politik dan keamanan yang kondusif.

Indonesia harus belajar memisahkan antara kepentingan ekonomi dan politik secara benar. Sehingga gonjangan yang terjadi pada politik tidak terpengaruh pada ekonomi. Harus ada konsistensi kebijakan minimal 5 (lima) tahun ke depan serta proses monitoring dan review yang jelas dan akurat.

Kebijakan ini bukan tanpa biaya. BI paling tidak harus mengeluarkan trilyunan Rupiah untuk pencetakan uang baru, sosialisasi dan monitorisasi pelaksanaannya. Untuk pelaksanaan 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang = iklan untuk mengecek keaslian uang), BI harus menghabiskan ratusan milyar untuk iklan diberbagai media. Apalagi kebijakan Redenominasi yang memakan waktu tahunan dan frekwensi iklan tidak saja cetak dan elektronika bahkan poster tempel yang jumlahnya jutaan lembar.

Courtesy : anshari-tarmizie.blogspot.com dan dari berbagai sumber

Pos ini dipublikasikan di Ekonomi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s